Allahmulah Allahku

Baca: Rut 1:1-17

Kisah ini diawali oleh Naomi yang kehilangan suami dan kedua anak lelakinya. Dalam keadaan duka, Naomi kembali ke Betlehem. Dia menyarankan kepada para menantunya untuk meninggalkan dia dan pulang kembali ke bangsa mereka, namun kedua menantunya menolak.
Terhadap jawaban mereka, Naomi tidak berhenti meyakinkan mereka bahwa pulang kepada bangsa mereka adalah sesuatu yang mungkin, bahkan kemudian secara detail dan nyata ia menggambarkan betapa buruknya masa depan mereka kelak karena tangan Tuhan menekan hidup mereka.
Secara singkat, Orpa mengikuti saran Naomi. Dia memutuskan untuk pulang ke bangsanya, namun Rut berkata:

“Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan.”

Rut berketetapan mengikuti dan menyembah Allah yang sedang mengacungkan tangan-Nya dalam murka-Nya. Tangan yang teracung yang membuat mertuanya mati, tangan yang sama yang membuat iparnya mati dan akhrinya suaminya mati dan menjadikan dia janda. Dan sekarang, tangan yang sama itu pun masih tetep teracung, membuat mertuanya pulang dengan tangan kosong. Namun terhadap Allah yang tangan-Nya teracung itu Rut berkata bahwa Dialah Allahnya juga. Sementara jalan untuk berbalik terbuka lebar, jalan yang bisa membuatnya bersuami lagi, jalan yang membuat dia lepas dari Allah yang sedang murka namun keputusannya tetap. Dialah Allahku juga, katanya. Inilah Iman yang membuat Rut dibenarkan.

Banyak orang beketetapan mengikut Tuhan karena mereka mendengar dan melihat kebaikan serta kasih tuhan yang bukan saja memperhatikan hidup serta kebutuhan mereka, namun juga menjanjikan masa depan yang baik, namun Rut berketetapan mengikut Tuhan yang hidup di tengah-tengah ia melihat murka-Nya. Sekalipun masa depannya telah digambarkan begitu gelap oleh Naomi, namun hal itu tidak membuatnya goyah. Jenis iman seperti inilah yang memperkenan hati Tuhan. Ketetapannya mengikuti Dia bukan karena keterikatan batinnya dengan Naomi, namun semuanya itu sudah teruji dan diperhitungkan secara rasio juga yaitu rasio kehilangan segala-galanya, termasuk kehilangan kesempatan untuk mendapat masa depan yang lebih baik.
Inilah iman yang dimiliki oleh Abraham, Musa, dan saksi-saksi iman lainnya. Disangkalinya segalanya bahkan hidupnya sendiri dan ditaruhkannya hidupnya pada altar-Nya. Dasar yang sama sebenarnya dituntut oleh Yesus. Ia yang mengajarkan untuk kita menghitung dulu segala sesuatunya sebelum memutuskan mengikut Dia. Hanya setelah kita siap kehilangan segalanya kita dapat menjadi murid-Nya.

Luk 14:33 Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Mengapa Rut sanggup mengambil keputusan itu? Karena iman seperti itu, tidak melihat yang kelihatan melainkan yang tidak kelihatan. Kalau kita bisa melihat seperti Rut melihat, dunia ini tidak akan pernah menawan hati kita, bahkan pada akhirnya diri kita sendiri pun tidak akan bisa memikat dan menahan penyerahan kita. Sebaliknya orang seperti Lot dan Gehazi, sekalipun mereka hidup bersama-sama pahlawan iman yang luar biasa, mereka tidak melihat seperti Abaraham dan Elisa lihat. Lot terpikat dengan kesuburan Sodom, sementara Gehasi terpikat dengan pemberian Naaman. Keduanya ditolak oleh Abraham dan Elisa, namun menarik hati orang yang melihat segala sesuatu secara jasmani. Alkitab menyatakan bahwa pada akhir hidup mereka begitu menyedihkan. Lot terkapar mabuk di gua dalam keadaan melarat sampai akhrinya tidur dengan puteri kandungnya sendiri. Gehasi putih seluruh tubuhnya karena kusta, tanpa bisa mewarisi urapan yang ada pada Elisa.

Rut, seorang yang tidak mengenal Allah, berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya ketika dia berkata ‘Allahmulah Allahku’. Dia menjadi salah satu tokoh perempuan yang namanya disebutkan dalam silsilah Yesus. Mari kita sama-sama belajar dari Rut…ketika keadaan berkata semuanya mustahil, aku bukan orang yang baik, aku ini dan itu…, tapi aku mau berubah, aku mau terus mengenal Allah. Allahmulah Allahku. Dan pada akhirnya kita alami terobosan bersama-sama, menjadi salah satu saksi iman yang namanya tertulis di Ibrani 11.

One Response to Allahmulah Allahku

  1. willy says:

    Upah dosa adalah maut…
    Upah ketaatan adalah pengenalan akan Tuhan:)

    Bener ga sih ya? tiba2 kepikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: