KETEPATAN untuk NAIK dan bukan TURUN

Seorang rekan pernah bilang, ‘Enak ya klo sudah jadi pimpinan.’ Hampir setiap orang di antara kita pun ingin naik ke level yang lebih tinggi, misalnya dalam hal kerjaan, dalam hal pendapatan, dalam hal tanggung jawab di keluarga maupun di pelayanan, dll. Apakah itu salah? Tentu tidak. Bahkan Tuhan bilang klo setiap kita yang di dalam Tuhan akan terus naik dan tidak menjadi turun. Hanya saja kita perlu hati-hati karena semakin naik kita, maka ‘angin badai’ pun semakin kuat untuk membawa kita jatuh atau turun. Kita perlu benar-benar hati-hati dan waspada sehingga tidak menjadi turun atau jatuh.

TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,

(Ulangan 28:13)

 

Tentunya, saat orang mau naik ke level selanjutnya, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, misalnya lulus ujian tertentu, dan jika gagal di salah satu syarat itu ya bakalan susah banget buat naik level.  Misalnya, klo njawab ujian tidak tepat, berarti salah kan jawabannya. Hal itu bisa bikin nilai ujian jadi merah terus gak naik kelas. Ini berarti sebuah ‘ketepatan’ akan membuat Anda bisa naik ke tempat yg Anda inginkan, dan sebuah ketidaktepatan bakal bikin Anda gagal.

Ada hal menarik yang saya barusan mengerti tentang sebuah ketepatan/ketidaktepatan dalam membuat kita naik di dalam Tuhan, dan saya ingin membagikannya di sini.

Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Amazia, ayahnya.

(2Taw 26:4)

Namun yang dimaksudkan ‘tepat seperti  yang dilakukan Amazia, ayahnya’, itu justru tidak tepat karena Amazia, ayah Uzia, hanya melakukan apa yang benar di mata Tuhan tetapi tidak dengan segenap hati. 2 Taw 25:2

Hari-hari ini Tuhan mau untuk kita belajar bukan hanya melakukan apa yang benar namun disertai dengan ketepatan. Banyak anak Tuhan menunda melakukan apa yang Tuhan perintahkan, sehingga semua yang dilakukannya itu tidak berdampak dan menunjukkan hasil yang kuat. Dalam rangka kita naik dan tidak turun, melakukan yang benar sekalipun jika tanpa di dalam ketepatan adalah sia-sia. Misalnya, kita menunda untuk berangkat ke sekolah, tentu akibatnya masih tidak fatal. Tetapi kalau harus mengoperasi jantung dan itu ditunda maka akibatnya akan fatal dan bisa menyebabkan kehilangan nyawa seseorang. Jika Anda masih sekolah kedokteran bedah, saudara berangkat sekolah telat 10 menit itu tidak masalah. Namun, begitu Anda sudah menjadi dokter jantung, Anda diberitahu pasien sudah gawat darurat dan harus dioperasi, lalu Anda terlambat berangkat, janji operasi jam 9 dan sudah disiapkan, Anda baru berangkat jam setengah Sembilan karena menunda dan belum lagi terkena macet sehingga baru tiba 2 jam kemudian, bisa-bisa pasien sudah meninggal duluan sebelum Anda tiba di ruang operasi. Apa yang dilakukan sama-sama menunda, tetapi waktu Anda sekolah kedokteran, itu tidak menjadi masalah, tetapi ketika Anda sudah menjadi dokter, itu bisa jadi masalah. Ketepatan (missal: ketepatan waktu, ketepatan bertindak, dll) sangat diperlukan jika Anda ingin naik di dalam Tuhan. Saya harap Anda mengerti dalam hal ini.

Begitu juga dalam hal belajar menembak. Kita sama-sama memegang senapan. Pada waktu Anda belajar menembak, tidak menjadi masalah jika tembakannya tidak kena sasaran karena pasti hanya akan kena pohon di dekatnya. Tetapi pada saat Anda masuk dalam peperangan yang sesungguhnya, ketika Anda menghadapi musuh yang ada di depan Anda dan menembakkan peluru kepadanya tetapi malah menyimpang dan mengenai teman Anda, maka musuh dapat dengan mudahnya menembak mati Anda. Ada 1 titik di mana ketidaktepatan akan berakibat fatal. Dan saat ini adalah masa di mana Anda harus belajar dalam ketepatan.

Daud menjadi berhasil dalam peperangan, dalam memimpin Israel sebagai raja karena dia tau apa namanya ketepatan. Dalam setiap kesempatan perang, dia selalu tanya dulu ke Tuhan utk siasat apa sebaiknya yang digunakan dalam perang itu. Apakah Tuhan menyertai untuk memberikan kemenangan. Daud, seorang yang takut akan Tuhan, seorang yang diurapi, menjadi berhasil karena Daud menggabungkan pengurapan, penyertaan Tuhan, keahlian berperang, kecakapan seorang raja, dan ketepatan dalam bertindak. Daud menggabungkan semuanya dengan sangat baik.

Ada beberapa orang masih terus santai dan mereka berpikir mereka bisa bermain-main dalam ketidak-tepatan dan ketidak-tahuan. Akan ada satu titik di mana sudah tidak ada lagi kesempatan kedua untuk mengulang semua itu.

Saya berdoa, setiap kita menjadi orang-orang yang menghargai sebuah ketepatan (tepat waktu, tepat sasaran, tepat strategi berperang/bekerja/pelayanan, tepat dlm banyak hal) sehingga dapat dengan mudah Tuhan membawa kita naik ke level berikutnya. Naik dalam pelayanan, dalam pendapatan, dalam pekerjaan, dalam pengurapan, dalam segala sesuatunya karena itu adalah destiny kita…tetap naik dan tidak menjadi turun.

 

Ordinary to be extraordinary – by His Grace

Glory to God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: