Mengapa Mereka Benyanyi Dihadapan Eksekusi Mati

Wahyu ‘wepe’ Pramudya
30 Apr 2015 | 10:08

Sumber: Hukuman Mati (sumber tribunnews)

“Mengapa mereka bernyanyi di hadapan eksekusi mati, Pak Pendeta?” demikian bunyi sebuah pesan di inbox akun facebook saya. “Apakah Pak Pendeta tahu laguAmazing Graceyang mereka nyanyikan di hadapan para eksekutor yang mengarahkan senjata api pada mereka?”

Beberapa pemberitaan media massa di dalam dan luar negeri mengisahkan tentang para terpidana mati yang bersama-sama menyanyikan laguAmazing Gracedan dilanjutkan dengan laguBless the Lord O My Soul.Dengan mata tetap terbuka mereka menyanyikan lagu ini hingga senjata api menyalak dan kematian pun menjemput.

Mengapa mereka bernyanyi di hadapan hukuman mati? Saya tidak tahu pasti. Saya tak pernah bersentuhan langsung dengan para terpidana mati ini. Saya hanya membaca kesaksian dari rohaniwan yang mendampingi dan dari sesama narapidana yang pernah menjadi rekan Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Hidup duobali nineberubah dalam perjumpaan dengan Yesus Kristus selama dalam penjara. Di media online ada banyak kisah tentang para terpidana mati ini, khususnya Andrew Chan. Ada sebuah percakapan menarik yang dirilis oleh situs dailytelegraph :

Rothfield:How do you handle ur situation. I couldn’t sleep if it was me. (Bagaimana kamu mengatasi situasi ini. Saya tidak dapat tidur jika ada dalam situasi seperti itu.)Chan:Honestly Jesus. Basically 10 years ago I was going to kill myself. Something happened, something I never believed in my whole entire life. That there is a God and he existed and he is real.(Sejujurnya Yesus. Pada dasarnya 10 tahun yang lalu saya akan bunuh diri. Sesuatu terjadi, sesuatu yang tidak pernah saya percayai seumur hidup saya. Ada Tuhan dan Ia ada dan Ia nyata)

Mengapa mereka bernyanyi di hadapan hukuman mati? Bagi Andrew Chan mungkin itu adalah nyanyian proklamasi imannya. Penemuannya di dalam penjara bahwa Allah bukan sekadar ada, tetapi nyata kasih-Nya melalui Yesus Kristus. Kesadaran akan kehadiran Allah yang telah menopang dan mengubahkan hidup Andrew Chan selama sepuluh tahun ada di penjara. Perubahan yang disaksikan sesama tahanan dan para penjaga penjara. Chris Makin, seorang penulis untuk biblesociety.org, yang berkesempatan mengunjungi Andrew Chan dalam penjara Kerobokan, Bali menulis : “Currently Andrew leads the Christian church inside Kerobokan prison. From preaching to worship leading, pastoring to evangelism, he uses his days in service of the Lord. To ensure the longevity of the ministry in the prison, Andrew is training leaders to carry on the work of the Lord in Kerobokan.” (Saat ini Andrew memimpin gereja Kristen di dalam penjara Kerobokan. Dari berkhotbah sampai memimpin pujian, menggembalakan sampai menginjili, ia menggunakan hari-harinya untuk melayani Tuhan. Untuk memastikan keberlangsungan pelayanan dalam penjara, Andrew melatih para pemimpin untuk melanjutkan pekerjaan Tuhan di Kerobokan).Dalam sebuah wawancara yang dimuat sebuah media, Andrew Chan mengungkapkan pergumulannya setelah mendengar berita bahwa ia dijatuhi hukuman mati. “When I got back to my cell, I said, ‘God, I asked you to set me free, not kill me.’ God spoke to me and said, ‘Andrew, I have set you free from the inside out, I have given you life!’ From that moment on I haven’t stopped worshipping Him. I had never sung before, never led worship, until Jesus set me free” (Ketika saya kembali ke dalam sel penjara, saya berkata,’ Tuhan, saya meminta untuk membebaskan saya, bukan membunuh saya.’ Tuhan berbicara kepada saya,’ Andrew, Aku tela membebaskanmu dari dalam keluar, Aku telah memberikanmu hidup!’ Dari saat itu, saya tidak pernah berhenti memuji-Nya. Saya tidak pernah bernyanyi sebelumnya, tidak pernah memimpin pujian, sampai Yesus membebaskan saya.”Nyanyian adalah ekspresi pengalaman iman. Bukankah di hadapan kematian tak ada bekal apapun yang dapat kita bawa selain dari iman? Iman yang menggerakkan hati dan bibir untuk bernyanyi dan memuji-Nya bahkan di hadapan hukuman mati.

Mengapa mereka bernyanyi Amazing Grace di hadapan eksekusi mati? Amazing Grace adalah sebuah lagu pujian populer ratusan tahun dalam komunitas Kristen. Kekuatan lagu ini barangkali terkait dengan pengalaman bersama sebagai orang percaya : di dalam kesalahan dan keberdosaan, kasih karunia Allah itu nyata. Lagu ini ditulis oleh John Newton (1725–1807), seorang penjual budak, penjudi dan pemabuk yang menyadari kebesaran kasih karunia Allah di dalam hidupnya. Setelah pertobatannya, dalam jatuh bangun kehidupan imannya, Newton akhirnya memutuskan untuk melayani Tuhan sebagai pendeta.

Silakan menyimak bait pertama dari lagu Amazing Grace
Amazing Grace, how sweet the sound,That saved a wretch like me.I once was lost but now am found,Was blind, but now I see

Terjemahan bebas tanpa memperhitungkan notasi adalah : Kasih karunia yang menakjubkan. Betapa Indah terdengarnya. (Kasih Karunia) yang menyelamatkan orang jahat seperti saya. Saya pernah terhilang, namun kini ditemukan. Buta, namun kini melihat.

Mengapa mereka bernyanyi Amazing Grace di hadapan eksekusi mati? Barangkali lewat lagu ini mereka ingin mengungkapkan kesadaran akan kelamnya perjalanan hidup, sekaligus cerahnya kasih dan pengampunan Tuhan. Di hadapan hukum mereka dinyatakan bersalah. Eksekusi mati adalah ganjaran yang bagi sebagian orang dianggap adil atas kesalahan tersebut. Hanya di hadapan Tuhan, mereka dapat memohon bukan keadilan, tetapi pengampuan-Nya. Barangkali itulah alasan mengapa mereka bernyanyi Amazing Grace : ketika pengampunan itu tak mereka dapatkan dari manusia, satu-satunya harapan mereka adalah Sang Pencipta Kehidupan.

Mengapa mereka bernyanyi Amazing Grace di hadapan eksekusi mati? Barangkali mereka sedang merayakan pengampunan Tuhan, Sang Pencipta kehidupan, di tengah hukuman mati yang diputuskan oleh sesama manusia.

Para terpidana mati itu bukanlah pahlawan. Mereka telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Mereka telah ikut berkontribusi merusak kehidupan orang-orang lain. Mereka adalah penjahat. Sama seperti penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus.Seorang penjahat yang menyadari kesalahannya menegur rekannya,” Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Kemudian, ia menatap Yesus dan memohon, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”

Kepada penjahat yang mengakui kesalahannya ini, Yesus menjawab,” Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Amazing grace. How sweet the sounds.

*) Wahyu ‘wepe’ Pramudya adalah pendeta GKI Ngagel Surabaya. Proyek pelayanan terakhirnya adalah Renungan

ARTIKEL TERKAIT
Mengapa Mereka Benyanyi Dihadapan Eksekusi Mati?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: